Umrah itu ibadah yang melibatkan banyak sisi; waktu, fisik, dan biaya. Karena itu, amat disayangkan jika umrah hanya dimaknai dengan sempit. Seharusnya, selain ibadah, umrah juga mesti menjadi sarana menapaktilas tempat-tempat suci, berkah dan bersejarah.
Ada banyak tempat bersejarah di Tanah Suci. Bahkan, Makkah dan Madinah sendiri adalah tempat bersejarah. Di kedua kota inilah Nabi saw dan para shahabatnya menghabiskan banyak waktu. Makkah tempat kelahiran Rasulullah saw. Madinah adalah kota tempat beliau dimakamkan.
Menapaktilasi kedua kota suci berarti kita sedang belajar sejarah hidup manusia mulia. Kita seolah sedang merangkai sisi-sisi kehidupan Rasulullah saw. Nah, membaca buku ini, kita tak hanya dipandu bagaimana melaksanakan umrah yang benar tapi juga diberikan wawasan tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi.
Buku ini juga dilampiri kiat-kiat praktis bagaimana beribadah di Raudhah, shalat di Hijr Ismail atau mencium Hajar Aswad berdasarkan pengalaman penulis yang telah berkali-kali membimbing jamaah umrah.
Bagi yang akan berangkat umrah, buku ini bisa menjadi panduan. Untuk yang sudah berangkat, karya ini akan menyegarkan kembali kenangan Anda tentang Tanah Suci.
HEPI ANDI BASTONI
Lahir dari keluarga sederhana di Baturaja, Sumatera Selatan, 5 Nopember 1975. Sejak kecil sering dijejali buku oleh kakeknya—almarhum. Sebagian besar dari buku-buku itu berkisah tentang para Nabi dan sejarah hidup para shahabat Rasulullah saw.
Ia menyelesaikan pendidikannya di SD Negeri Sukamerindu, Baturaja (lulus 1988). Karena prestasinya, kala itu pihak sekolah memberikan penghargaan dengan membolehkannya menyelesaikan pendidikan SD hanya lima tahun, tanpa menduduki kelas IV.
Selanjutnya, pendidikannya diteruskan ke SMP Negeri Pengandonan, Baturaja sampai kelas II, dan kelas III-nya ia rampungkan di Madrasah Tsanawiyah Negeri I Kotabumi, Lampung. Pada 1991-1994, ia melanjutkan sekolah di MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) Lampung dengan mendapatkan beasiswa penuh dari Departemen Agama. Selama tiga tahun, ia mendapatkan biaya sekolah gratis dan sarana belajar secara lengkap serta uang beasiswa secukupnya.
Selanjutnya, pada 1994-1998, ia meneruskan pendidikan di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) dan Program Pascasarjana di Institut AL-AKIDAH Jakarta (2000-2002), Jurusan Pemikiran Politik Islam. Ia juga mengambil Program Pascasarjana di Universitas Ibnu Khaldun Bogor dengan Program Magister Pendidikan Islam. Saat ini, Hepi Andi Bastoni sedang menyelesaikan Program Doktoralnya dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam.
Wartawan dan Penulis yang Hobi Sejarah
Hepi Andi mulai mengarang sejak kelas V SD. Yang dia tulis umumnya cerita anak seperti di Majalah Tomtom dan Bobo atau pengalaman pribadi. Saat itu karena ketiadaan mesin tik, beberapa karyanya hanya dia dan teman-teman sekolahnya yang menikmati. Selama duduk di kelas I dan II SMP, ia menjadi penggemar setia serial Trio Detektif karangan Alfred Hitchock dan Wiro Sableng karya Bastian Tito serta cerita para nabi dan shahabat. Bahkan, ketika menempuh pendidikan di Jakarta, Hepi Andi sempat ‘berguru’ langsung ke Bastian Titi, Penulis Serial Wiro Sableng--almarhum.
Pada sebuah liburan perkuliahan (1997), ia sempat minjam mesin tik dari salah seorang bibinya. Dari mesin tik inilah lahir serial perdana Pendekar Keris Macan Api, Panji Geledek, cerita silat fiktif dengan latar belakang masuknya Islam ke Nusantara. Dari cerita yang terdiri dari 10 serial inilah penulis mampu membeli sebuah mesin tik pribadi. Mesin tik ini juga selanjutnya “melahirkan” komputer (tahun 1999).
Beberapa cerpennya sempat dimuat di Majalah Islam SABILI dan Tabloid Fikri, seperti Gurat Kenangan di Banagung, Di Balik Surat Sahabat, Gondrong, Pembantu Gadungan dan beberapa karya fiksi lainnya. Seberkas Cahaya di Victoria menjadi cerpen tamu di Kumpulan Cerpen Perempuan di Negeri Beton.
Kedekatannya dengan tema sejarah semakin bertambah ketika di awal tahun 2000, ia dan kawan-kawan menggagas sebuah lembaga pendidikan, dan dirinya diamanahi untuk merancang sekaligus mengajar tema Sirah Nabawiyah. Ketika bergabung dengan Majalah Islam Sabili pada pertengahan Tahun 2000, ia pun langsung mengemban tugas menggawangi rubrik Ibroh (sebuah rubrik analisa sirah) dan rubrik Lentera (semacam biografi tokoh Muslim klasik). Amanah itu ia emban selama hampir tujuh tahun (2000-2007).
Dengan demikian, ia mengaku jadi akrab dengan buku-buku sirah dan sejarah para penguasa. Itulah yang merangsangnya melahirkan beberapa buku bertema sirah, antara lain: 101 Sahabat Nabi (Pustaka Al-Kautsar, September 2002), Belajar dari Perang Uhud (Pustaka al-Bustan, September 2003), 101 Wanita Teladan di Masa Rasulullah (Robbani Press, Maret 2004,Bukan Hanya Salah Fir’aun—kumpulan tulisan—(Qalammas, Desember 2004), Belajar dari Dua Umar (Qalammas Februari 2006), 101 Kisah Tabiin (Pustaka al-Kautsar, Mei 2006), Sejarah Para Khalifah (Pustaka al-Kautsar, Juni 2008), Wajah Politik Muawiyah bin Abu Sufyan (Pustaka al-Bustan, dalam proses cetak). Hingga kini sudah hampir 50 judul buku ia tulis. Sebanyak 13 judul terbit di Malaysia.
Semasa kuliah Hepi Andi sempat menjadi wartawan Majalah Anak Taman Melati (1998-2000) dan menimbah pengalaman di Majalah Islam Sabili (2000-2007) dengan jabatan terakhir sebagai Redaktur Pelaksana. Setelah itu, bersama beberapa rekannya sesama insan pers Muslim, ia melahirkan Majalah al-Mujtama’ dan diamanahi sebagai Pemimpin Redaksi.
Pada April 2002, selama satu pekan, ia sempat meliput acara Muktamar Rabithah Alam al-Islami di Makkah, Arab Saudi, dan mewawancarai Yusuf Qaradhawi, Dr Ikrimah Said Sabri (Mufti Besar Masjidil Aqsha kala itu) dan beberapa tokoh Islam lainnya. Pada pertengahan 2005, ia diundang untuk mengisi acara yang dilaksanakan oleh para Buruh Migran Indonesia di Hong Kong. Selama hampir sepekan, ia sempat “memotret” geliat dakwah di negeri Jacky Chen itu.
Pada akhir Februari 2006, ia sempat ziarah ke Ghuang Zhou Cina dan menelusuri jejak Islam di kota itu. Beberapa masjid tua, termasuk makam yang diyakini milik keluarga Sahabat Nabi saw, Sa’ad bin Abi Waqqash sempat ia ziarahi.
Sebagai Trainer, Dosen, Penceramah dan Pembimbing Umrah
Hepi Andi juga dikenal sebagai pembicara tetap pada beberapa kajian rutin khususnya di bidang spesialisasinya: Sirah Nabawiyah. Secara rutin, ia pernah mengisi Kajian Rutin Sirah Nabawiyah di Radio MARS (Madinatur Rasul) Pusat Pengembangan Islam (PPIB) Bogor saban Rabu pagi, Kajian Sabtu Sore di Masjid al-Ghifari Bogor, Kajian Ahad Sore di Masjid At-Taqwa Pakojan Empang Bogor, Kajian Sirah Nabawiyah di Masjid Mahabbatur Rasul Vila Bogor Indah Bogor, dan beberapa tempat lainnya. Di Jakarta, ia pernah menjadi pengisi tetap beberapa pengajian kantor, seperti Telkomsel Gatot Subroto, Nestle Simatupang, PT Jasamarga, Masjid ar-Raqib BPKP Jakarta dan lainnya.
Selain aktif mengisi seminar dan kajian ke-Islaman di beberapa tempat, ia pernah juga menjadi dosen beberapa perguruan tinggi. Antara lain: sebagai dosen Mata Kuliah Jurnalistik Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam Indonesia (STAI Indo) di Jakarta, dosen Mata Kuliah Sirah Nabawiyah di Ma’had al-Khalifah Jakarta Islamic School, dan kini menjadi dosen Mata Kuliah Agama Islam di Akademi Kimia Analis Bogor dan Ma’had Shalahuddin Bogor.
Melengkapi aktivitasnya,Hepi Andi juga menjadi pembimbing beberapa Biro Perjalanan (travel) Umrah. Selain ke Tanah Suci, Hepi Andi juga mengajak jamaahnya untuk menapak tilas jejak kejayaan Islam di Turki. Atau, mengunjungi Abu Dhabi dan Dubai yang terkenal dengan pariwisatanya.
Sebagai Pengusaha dan Pekerja Sosial
Dari rumahnya yang asri di Bogor Jawa Barat, dosen di beberapa perguruan tinggi ini sedang merintis bisnis. Selain membesarkan Penerbit dan Distributor Bustan Group, ia juga membidik bisnis herbal (makanan dan obat-obatan alami) bersama istri tercintanya. Ia juga sebagai Direktur Utama PT Indana Multi Kreasi, sebuah perusahaan yang menangani penerbitan buku-buku dokumentasi lembaga pemerintah dan swasta, juga sebagai Direktur Utama CV Jaya Inti Persada, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan jasa cleaning service di beberapa perkantoran. Penulis juga merupakan pendiri sekaligus Direktur PT Personal Assistant, sebuah lembaga konsultan yang berkantor di Jakarta.
Pendiri For Us (Forum untuk Semua) sebuah Event Organizer, Pengembangan SDM dan Media ini juga tercatat sebagai Humas Ikatan Dai Indonesia (IKADI ) Kota Bogor. Kini ia sedang menyiapkan sebuah ma’had. Di antara program yang digagas adalah memaksimalkan masjid sebagai tempat ‘kuliah’ bagi para santrinya. Ia menamakan gagasannya dengan Ma’had 1000 Kampus di bawah naungan Yayasan Az-Zumar yang ia pimpin. Ia juga menjadi pendiri Yayasan Ibnu Hisyam Bogor, sebuah lembaga yang bergerak di bidang pelatihan dan kajian.