Seringkali, kita memandang burung gagak adalah makhluk yang penuh dosa, aib dan lambang kesalahan. Suaranya dianggap membawa musibah, kehadirannya sangat dibenci, dan kemunculannya dianggap mengganggu. Seolah tiada kebaikan yang bisa kita ambil atas mereka.
Sementara kita pahami bahwa setiap orang pasti memiliki masa lalu, tetapi juga berhak atas kebaikan masa depannya. Dan kisah ini pun berlaku demikian.
Penulis novel ini memiliki nama pena ADidi. Panggilan kecil yang sering digunakan oleh orang-orang yang mengenalnya. Lahir dan tinggal di Tangerang.
Ketika kecil, senang menggambar dan membaca majalah Bobo sampai ketiduran. Menyukai dunia anak-anak, sehingga membuatnya menjadi konsultan pendidikan dan terapis anak berkebutuhan khusus, sebagai sampingan profesinya.
Sebenarnya tidak menyukai media sosial, tetapi akhirnya dibuatkan akun instagram oleh anaknya, @ngobrol_yuuu.